21 September 2026

Rumah Tipe 36 Selesai 10 Hari, Masih Mau Cor Setahun?

Struktur dua hari, rumah berfurnitur sepuluh hari. WIKA Beton memamerkan WHOME di PIK, berapa sih yang benar-benar jadi di lapangan?

HS Heru ST Pengelola Rubrik
30 Agustus 2026, 14:07 WIB 5 menit baca 188 pembaca
Rumah Tipe 36 Selesai 10 Hari, Masih Mau Cor Setahun?
PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) atau WIKA Beton menghadirkan inovasi hunian tahan gempa bernama W-HOME. (ANTARA)

Di Danantara Housing Expo yang ditutup 30 Agustus 2026 di NICE PIK 2, WIKA Beton tidak menjual slogan “rumah cepat”. Perusahaan itu memajang sistem rumah beton pracetak bernama WHOME.

Janji di stan terdengar nyaris berlebihan: tulang bangunan berdiri sekitar dua hari, rumah tipe 36 berfurnitur selesai sekitar sepuluh hari. Di negeri yang biasa menunggu cor, bekisting, dan tukang berganti musim, angka itu terdengar seperti lelucon teknik.

Bukan lelucon di atas kertas belaka. Unit contoh sudah dibangun di pabrik Bogor pada Juni 2025. Dua unit percontohan juga sudah berdiri di Karang Baru, Aceh Tamiang, pada Februari 2026.

Dua hari untuk tulang, lalu angka hari yang pecah

WHOME lengkapnya WIKA Beton Home merupakan rumah sederhana 36 meter persegi. Isinya ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Desainnya minimalis. Perusahaan menyebut unit ini bisa tumbuh.

Komponen dicetak di pabrik: fondasi, kolom, sloof, balok, panel dinding. Barang dikirim, lalu dirakit di tapak tanpa alat berat. Analoginya sederhana: seperti merakit balok mainan, hanya materialnya beton.

Director of Engineering and Production WIKA Beton, Verly Widiantoro, dalam keterangan yang dirilis ANTARA pada 29 Agustus 2026, mengatakan perseroan sudah menguji lapangan dua kali.

“Dapat menyelesaikan struktur rumah dalam waktu sekitar dua hari, sedangkan keseluruhan rumah hingga all furnished dapat diselesaikan sekitar 10 hari,” ujar Verly.

Angka itu tidak sendirian. Sekretaris Perusahaan Yushadi Abdulhay, saat diwawancarai KabarBursa pada 16 April 2026, menyebut total 15 hari: dua hari struktur, 13 hari arsitektur sampai finishing, dikerjakan enam orang.

Laman resmi perusahaan pada 2025 hingga awal 2026 malah menulis sekitar 20 hari sampai siap huni. Perbedaan itu bergantung pada yang dihitung: tulang saja, rumah selesai diplester, atau rumah sudah berfurnitur.

Yang konsisten hanya dua hal. Struktur diklaim selesai sekitar dua hari. Mutu beton dikontrol di pabrik, bukan diaduk di halaman rumah.

Bukan bata yang diaduk di tapak sempit

Bagi orang yang hendak membangun atau merenovasi, pertanyaan praktisnya bukan “apakah keren”. Pertanyaannya: kapan sistem ini masuk akal.

Precast beton yang sudah dicetak sebelum sampai di lokasi masuk hitungan jika tapak sempit, mixer sulit masuk, jadwal ketat, atau mutu cor di tempat sering mengecewakan. Pekerjaan lapangan bergeser dari mengaduk dan mengecor menjadi merakit, menutup sambungan, dan menyelesaikan finishing.

Yushadi menjelaskan komponen struktural diproduksi di Pabrik Produk Beton WIKA Beton, “sementara di lokasi hanya dilakukan proses perangkaian.”

Tim konstruksi WHOME, namanya tidak disebutkan, dikutip KabarBursa: precast berbeda dengan cor proyek. Mutu dijamin karena material dan proses dicek sampai pengiriman. “Kalau cara konvensional, membuat rumah tipe 36 biasanya sulit bahkan tidak bisa selama 15 hari.”

Itu klaim internal, bukan survei biaya nasional. Tetap berguna sebagai batas ekspektasi: kecepatan lahir dari pabrik, bukan dari lembur tukang.

Banderol yang muncul di media independen hanya satu. Yushadi menyebut sekitar Rp120 juta per unit tipe 36, di luar tanah, untuk skema sekitar 15 hari kerja. Angka itu belum memuat tanah, izin mendirikan bangunan, utilitas, dan selisih finishing.

Jangan mencampur banderol itu dengan rentang harga hunian di stan Danantara yang dimulai sekitar Rp125 juta. Itu inventori banyak pengembang, bukan daftar harga resmi WHOME.

Lolos KDS D, memakai limbah pabrik, diuji di Aceh

Ketahanan gempa menjadi klaim kedua yang sering dilebihkan di media sosial. Perusahaan menyatakan WHOME lolos Kategori Desain Seismik D setelah uji siklik di Laboratorium Balai Besar Struktur Bangunan dan Geoteknik Kementerian Pekerjaan Umum, Bandung.

KDS D merupakan kategori desain seismik tinggi. Artinya struktur dirancang untuk wilayah gempa yang relatif keras. Perusahaan membatasi penerapan pada wilayah dengan SDS parameter percepatan respons spektral desain pada periode pendek paling tinggi 0,710g, mencakup 21 wilayah.

Itu bukan stempel “aman di seluruh Indonesia”. Siapa yang membangun di zona lebih tinggi dari spek itu perlu menghitung ulang, bukan menyalin brosur.

Material memakai fly ash dari limbah pembangkit batu bara dan slag dari limbah besi. Verly menyebut itu fitur hijau: “Kami memanfaatkan barang-barang limbah.” Yushadi menyebut WHOME sebagai Green Home karena mereduksi semen tanpa menurunkan kekuatan beton.

Persentase pengurangan semen khusus WHOME belum terbit di sumber terbuka. Jangan menempel angka sertifikat produk lain.

Ujian lapangan yang paling konkret ada di Karang Baru, Aceh Tamiang, sebagai hunian tetap pascabencana. Februari 2026, dua unit percontohan selesai: satu memamerkan rangka, satu siap huni. Komponen datang dari pabrik Binjai dan Tembung, tempuh 5–6 jam.

Verly menggambarkan tapak itu pelik: akses kendaraan terbatas, tempat tinggal pekerja terbatas, air terbatas. Perseroan memakai pabrik bergerak. Kapasitas disebut sekitar lima ribu rumah sebulan. Itu kapasitas produksi, bukan jumlah rumah yang sudah diserahkan kepada warga.

WHOME dikembangkan Divisi Business and Research Development untuk program tiga juta rumah. Perusahaan menyebut backlog hunian layak sekitar 29,2 juta penduduk. Paten tercatat P00202506104.

Kolaborasi dengan BRIN ada, tetapi perlu dibedakan. Produk sudah berjalan sejak 2025. Nota kesepahaman BRIN dan WIKA induk baru ditandatangani 18 Agustus 2026, mencakup teknologi rumah beton pracetak. Verly pada 29 Agustus menyebut fitur gempa melibatkan riset bersama BRIN. Itu ekosistem riset, bukan bukti BRIN merancang seluruh rumah dari nol.

Produk ini juga bukan RWB01, generasi lama yang dikerjakan empat sampai lima hari dan sudah dipakai di Cibinong. WHOME generasi 2025.

Di expo yang sama, Semen Indonesia memamerkan bata saling kunci. Pemainnya berbeda, sistemnya berbeda, meski keduanya mengklaim tahan gempa. Mencampur keduanya hanya membuat pembaca tersesat.

Kalau program tiga juta rumah memang membutuhkan kecepatan, bukan poster, pertanyaannya: berapa unit yang benar-benar dihuni setelah stan dibongkar?***

BAGIKAN:
HS

Heru ST

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.