4 November 2026

Tim Crystal UPER Potong Biaya Rumah Lewat Realitas Tertambah

Di atas kertas, rumah tiga lantai senilai Rp5 miliar bisa dipotong Rp588 juta. Mahasiswa Universitas Pertamina membuktikannya lewat realitas tertambah yang mereka bawa ke lomba nasional.

S Sagara Pengelola Rubrik
22 Oktober 2026, 12:17 WIB 3 menit baca 100 pembaca
Tim Crystal UPER Potong Biaya Rumah Lewat Realitas Tertambah
Tim Crystal Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina menerima penghargaan juara pertama kategori Estimasi Biaya Proyek pada Civil National Expo 2026. (Doc by: Medan Pos Online-Universitas Pertamina)

Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina berhasil meraih juara pertama kategori Estimasi Biaya Proyek pada Civil National Expo 2026. Tim Crystal mengungguli puluhan peserta lain, termasuk dari perguruan tinggi negeri ternama, dengan metode pelaksanaan konstruksi berbasis realitas tertambah yang terintegrasi dengan pemodelan informasi bangunan dimensi kelima.

Inovasi itu diuji melalui simulasi pembangunan rumah tinggal tiga lantai senilai Rp5 miliar. Pendekatan tersebut diproyeksikan mampu menghemat biaya sekitar 11 persen atau Rp588 juta sekaligus memangkas waktu penyelesaian selama 41 hari dibandingkan target awal. Tim beranggotakan Dimas Agim Jamiat, Fikri Andika Ramadani, dan Fasha Al Ihsan.

Integrasi Teknologi di Lapangan

Metode yang mereka usung berjudul Metode Pelaksanaan Konstruksi Berbasis Realitas Tertambah Terintegrasi Pemodelan Informasi Bangunan Dimensi Kelima untuk Optimalisasi Biaya dan Waktu Proyek Rumah Tinggal 3 Lantai. Pemodelan informasi bangunan dimensi kelima menggabungkan desain tiga dimensi dengan data material, volume pekerjaan, jadwal, dan estimasi biaya dalam satu sistem.

Informasi itu kemudian divisualisasikan menggunakan realitas tertambah sehingga pekerja dapat memverifikasi posisi elemen bangunan seperti jalur pipa, dinding, dan struktur secara langsung di lokasi sebelum pekerjaan fisik dimulai. Tim memanfaatkan perangkat lunak Revit dan Navisworks untuk sentralisasi data.

Dimas Agim Jamiat menjelaskan bahwa setiap keputusan harus mempertimbangkan keseimbangan antara biaya, waktu, dan kualitas. “Karena itu, kami memanfaatkan pemodelan informasi bangunan melalui Revit dan Navisworks agar proses permodelan, perhitungan volume pekerjaan, estimasi biaya, hingga simulasi jadwal dapat terintegrasi dalam satu sistem yang lebih efisien,” katanya kepada situs resmi Universitas Pertamina pada 17 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa teknologi tersebut membantu memastikan pekerjaan di lapangan tetap sesuai dengan desain sejak awal sehingga risiko kesalahan dan pekerjaan ulang dapat ditekan. Menurut laporan Medan Pos Online yang terbit 30 Juni 2026, Tim Crystal menyisihkan 78 tim peserta lainnya dan menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta yang lolos ke final bersama Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Sebelas Maret.

Relevansi bagi Industri dan Tenaga Kerja

Dosen pembimbing sekaligus dosen Teknik Sipil Universitas Pertamina, Dr. Vani Arliani, S.T., M.T., menilai capaian itu merupakan hasil penerapan pembelajaran berbasis proyek. “Kami memfasilitasi mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mengembangkan solusi yang dapat menjawab kebutuhan industri,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Medan Pos Online.

Penjabat Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan komitmen kampus memperkuat pembelajaran berbasis teknologi. “Transformasi digital telah mengubah berbagai sektor, termasuk industri konstruksi. Karena itu, kami terus mengembangkan kurikulum yang adaptif,” katanya.

Inovasi ini muncul di tengah tantangan industri konstruksi nasional. Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi periode 2025–2029 Insannul Kamil mengungkapkan pada Kongres Luar Biasa Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia di Jakarta, 17 Juli 2026, bahwa dari sekitar 8,2 juta pekerja konstruksi, baru 629.622 orang yang bersertifikat, kurang dari 10 persen. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi mewajibkan sertifikat kompetensi.

Angka hemat biaya dan pemangkasan waktu tersebut berasal dari hasil simulasi kompetisi, bukan realisasi pada proyek yang sudah terbangun. Namun, pendekatan visualisasi lapangan seperti ini dinilai berpotensi menekan pekerjaan ulang yang kerap terjadi, terutama pada proyek perumahan rakyat dan hunian aparatur sipil negara yang masih banyak mengandalkan metode konvensional.

“Jangan takut mencoba hal baru dan terus asah kemampuan sesuai bidang yang diminati. Setiap proses belajar akan menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan profesional di masa depan,” kata Dimas Agim Jamiat dikutip dari situs resmi Universitas Pertamina.***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.