6 November 2026

Vietnam Sudah Full Listrik, Kenapa Kita Masih Solar?

Tambang tetangga potong biaya setengah. Pabriknya sudah digarap di Karawang, apa yang masih ditakuti kontraktor?

S Sagara Pengelola Rubrik
28 Agustus 2026, 13:19 WIB 4 menit baca 214 pembaca
Vietnam Sudah Full Listrik, Kenapa Kita Masih Solar?
Ekskavator listrik buatan Guangxi Liugong Machinery Co., Ltd. beroperasi di lokasi konstruksi di Eropa. (People's Daily)

Vietnam sudah memamerkan satu tambang dengan lebih dari 120 unit alat berat ekskavator, loader, dozer, sampai truk yang semuanya menyala dari baterai.

Operator tambang itu, namanya tidak disebutkan, mengklaim biaya per ton anjlok 50 persen. Klaim itu muncul di People’s Daily pada 27 Agustus 2026. Bukan audit independen. Tetap saja, angka itu cukup untuk menampar opini lama: “alat China murah, tapi boros solar.”

Sebulan sebelumnya, pada 22 Juli 2026, LiuGong meletakkan batu pertama pabrik di Karawang Artha Industrial Hill. Investasinya USD 317 juta, atau sekitar Rp 5,2 triliun. Target operasi: semester pertama 2027, menurut Jakarta Post.

Pertanyaan publik pun bergeser. Bukan lagi tenaga kuda. Melainkan PLN, charger, mikrogrid jaringan listrik mini di lokasi kerja dan daur baterai.

Tetangga sudah hitung, kita masih ragu

Asosiasi alat berat China mencatat ekspor alat konstruksi negeri itu mencapai USD 34,37 miliar pada semester pertama 2026, naik 21,7 persen. ASEAN menyedot USD 5,56 miliar, naik 23,6 persen.

Volume listriknya masih kecil. Ekspor ekskavator listrik hanya 135 unit. Loader listrik 1.643 unit. Tumbuhnya yang mencolok: masing-masing 61 persen dan 172 persen.

Deputy Chief Engineer LiuGong, Li Kailiang, bilang hampir setiap perusahaan tambang kelas dunia sudah membuka pusat pengadaan di China. Menurutnya, baterai mereka tahan panas dan lembap. Klaim operasional: cas 45 menit, jalan 8–10 jam.

Brosur model 924FE kelas 25 sampai 28 ton lebih hemat janji. Cas 80 sampai 120 menit dengan charger 300 kilowatt. Runtime 5 sampai 10 jam, tergantung paket baterai 423 atau 528 kilowatt-jam.

Artinya, “listrik menang” hanya kalau infrastruktur ikut menang.

Pabriknya sudah di Karawang, soalnya bukan pabriknya

Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, di upacara Karawang, menyebut kebutuhan alat berat 2026 sekitar 19.000 unit. Kapasitas pabrik lokal baru 10.000 unit.

Chairman LiuGong, Zheng Jin, menjanjikan kemitraan jangka panjang di ASEAN dan “transformasi hijau.” Presiden Direktur LiuGong Indonesia, Levi Lin, menargetkan 5.000 ekskavator plus 500 wheel loader per tahun pada tahap pertama. Loader-nya semua listrik. Ekskavatornya masih campur solar.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melihat harga pengadaan yang lebih masuk akal. Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, melihat basis ekspor.

Yang belum selesai justru hitungan di pit lubang tambang. Wakil Ketua Umum I Aspindo, Ahmad Kharis, mengingatkan: sekitar 85 persen operasi batubara dikerjakan kontraktor.

“Bank pasti akan tanya, balik modalnya kapan. Kalau investasinya dua sampai tiga kali lipat, sementara kontrak hanya satu sampai dua tahun, itu tidak masuk hitungan.”

Di Kalimantan, Direktur Operasional Titan Infra Energy, Suryo Suwignjo, sudah menguji baterai 300 sampai 500 kilowatt-jam untuk hauling. Hasilnya: kadang belum selesai satu trip, unit harus cas lagi. Ia menaksir butuh 700 sampai 800 kilowatt-jam.

Kompas.id, dalam liputan Weda Bay, mengutip pelaku industri yang menekankan hal sama: elektrifikasi bukan ganti unit. Itu merekayasa ulang operasi. Tambang di luar jaringan butuh puluhan megawatt. Data umur baterai untuk nilai jual kembali masih tipis.

PLN sudah masuk. Ada perjanjian pasokan ke sejumlah tambang batubara. Ada pula uji coba di Borneo Indobara dan Bukit Asam. Satu site membandingkan loader listrik sekitar Rp 50.000 per jam versus solar sekelas lebih dari Rp 360.000 per jam. Itu satu lokasi. Bukan hukum alam.

Kota bisa untung dulu, tambang jauh masih bertaruh

Break even point titik balik modal tidak sama di setiap proyek.

Di dalam kota, terowongan, atau pengolahan sampah, larangan bising dan emisi sudah bekerja. Jaringan PLN ada. Cukup satu-dua charger. Kerja malam menjadi mungkin karena kabin diklaim di bawah 69 desibel.

Di tambang terpencil 24 jam, charger 300 kilowatt per unit membebani jaringan. Kalau listrik tidak sampai, yang harus dibangun adalah mikrogrid: panel surya, baterai stasioner, dan charger. Biaya itu bisa menyamai selisih harga unit.

Variabel yang wajib masuk spreadsheet pengadaan: premi harga beli 1,5 sampai 3 kali lipat, jam operasi per tahun, harga solar di site sering jauh di atas pom bensin tarif listrik, downtime cas versus tukar baterai, plus nilai sisa di tahun kelima.

Mandatori B50 menaikkan biaya solar. Itu mendorong listrik. Kas kontraktor justru semakin sesak untuk Capex belanja barang modal yang membengkak di depan.

Pabrik Karawang bisa memangkas ongkos logistik dan mempercepat suku cadang. Ia tidak otomatis memangkas rasa takut bank.

Vietnam menagih kita dengan satu angka yang masih harus dibuktikan. Indonesia menjawab dengan satu pabrik yang belum berproduksi.

Kalau listrik sudah lebih murah di kertas, mengapa kontrak jasa tambang kita masih ditulis seolah solar tidak punya pengganti?***

BAGIKAN:
S

Sagara

Pengelola Rubrik

Ahl IT dan olah data.

Artikel Terkait

Diskusi Praktisi (0)

Belum ada diskusi. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman lapangan.

Tinggalkan Komentar

Tidak ditampilkan publik.